Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
Pemberitaan seputar permasalahan perkebunan sawit agaknya terus menghiasi sejumlah media massa di Kalimantan Barat dalam setahun dan bahkan dalam dua tahun terakhir. Beragam dinamika sebagai ekses dari kebijakan pembangunan berorientasi kepentingan ekonomi ini mengemuka dan bahkan diantaranya mengisi halaman muka sejumlah koran harian di daerah ini. Majalah Kalimantan Review cenderung lebih intensif memberitakan isu sawit dan permasalahannya dalam setiap edisi. Selanjutnya media elektronik televisi dan radio juga tidak ketinggalan memberitakan isu seputar perkebunan sawit.
Lebih khusus, Radio Republik Indonesia dalam sebuah program talkshow Jumat (18 Februari 2011), mengangkat topik bertema; Menyikapi Kriminalisasi dan Pemiskinan Petani Sawit di Kalbar. Pada talkshow itu, dihadiri dari tiga unsur narasumber yakni dari Divisi Riset dan Kampanye Walhi Kalbar, Hendrikus Adam anggota Komisi B DPRD Kalbar, NCH Saiyan dan Ibrahim Banson sekalu Ketua Perhimpunan Pekerja Kelapa Sawit Rakyat (P2SR) Kalimantan. Talkshow itu sendiri dipandu oleh Abrar Anas penyiar RRI Pontianak.
Di ruang studio Radio Republik Indonesia (RRI) Pro I yang kedap suara didominasi warna biru berukuran 5 x 6 meter tersebut, perbincangan kami pun mulai mengudara tepat pukul 16.00 wiba yang diawali pengantar oleh sang Penyiar menyapa pendengar. Para narasumber diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan pandangan awal mengenai perkebunan kelapa sawit. Sesi itu dimulai dari Hendrikus Adam yang memaparkan bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi primadona pemerintah, namun pada faktanya banyak persoalan di balik perkebunan tersebut.
”Perkebunan sawit saat ini memang dijadikan primadona oleh pemerintah dengan dalih untuk mensejahteraan rakyat, tetapi faktanya tidak sedikit persoalan yang muncul sebagai dampak hadirnya kebijakan di sektor ini. Kriminalisasi sebagaimana dialami warga dan terjadi dibeberapa daerah Kalimantan Barat adalah realita yang sungguh terjadi. Disamping itu orientasi kepentingan ekonomi dalam kebijakan pembangunan perkebunan sawit selama ini seringkali mengabaikan konsep pembangunan berkelanjutan yang mestinya tidak mengabaikan aspek sosial budaya dan lingkungan hidup,” papar Hendrikus Adam.
Walhi Kalbar yang diwakili Hendrikus Adam juga menyampaikan terjadinya inskonsistennya kebijakan terkait dengan pembangunan model global pembangunan seperti halnya kebijakan perkebunan sawit. ”Pemerintah Daerah Kalbar saja misalnya telah menetapkan luasan pengembangan perkebunan sawit 1,5 juta Ha saja untuk perkebunan sawit, tetapi faktanya saat ini izin yang dikeluarkan untuk perkebunan sawit oleh pemerintah kabupaten di Kalbar mencapai hampir 4 juta Ha. Ini salah satu contoh ketidakkonsistenan dalam pelaksanaan kebijakan bidang perkebunan sawit di Kalbar,” paparnya.
Ketua P2SR, Ibrahim Banson, SH, menyampaikan kalau persoalan perkebunan kelapa sawit menjadi primadona untuk mensejahterakan rakyat. Namun menurutnya telah terjadi adanya ketidakseimbangan antara apa yang dilakukan pemodal (investor) dengan apa yang dimau oleh masyarakat. ”Perusahaan selama ini katanya ingin mensejahterakan, tetapi kenyataannya sebaliknya. Nah persoalan seperti ini perlu dikaji dan tata lebih baik kedepan,” terang Banson.
Ibrahim Banson menambahkan bahwa persoalan terkait dengan perkebunan sawit selama ini terutama dikarenakan oleh tidak singkronnya semua pihak dalam pelaksanaannya, baik pemerintah maupun investor. Ibrahim Banson menambahkan bahwa saat ini tidak sedikit investor yang nakal. Ia juga tidak menampik terjadinya keberpihakan yang tidak memenuhi rasa keadilan bagi warga terutama mengenai penyelesaian kasus yang hanya berpihak pada yang bayar, bukan pada warga yang sesungguhnya membutuhkan.
Narasumber dari anggota Komisi B DPRD Kalbar, NCH Saiyan menambahkan bahwa perkebunan sawit sudah terbukti tidak mensejahterakan rakyat. Dalam banyak kasus warga yang menolak seringkali diancam, ditangkap, ditahan dan adili. ”Sawit bukan malah mensejahterakan, tetapi malah memiskinkan rakyat,” jelasnya. Pernyataan NCH Saiyan tersebut, berkaca dari sejumlah persoalan kriminalisasi yang dialami masyarakat di sejumlah daerah Kalbar akhir-akhir ini.
Melalui talkshow intraktif itu beberapa penelfon mengeluhkan persoalan pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kalbar. Seperti yang disampaikan Kepala Binua Ngabakng di Kecamatan Sadaniang, Facharudin. Menurutnya dengan akan masuknya perkebunan sawit di daerahnya akan mengancam keberadaan hutan produksi yang juga diakui sebagai hutan adat masyarakat. Demikian pula Suryadi, mengeluhkan penggusuran atas lahannya tanpa persetujuan yang dilakukan perusahaan Lestari Alam Raya (LAR) yang saat ini beroperasi di daerah Capkala dan Segedong. ”Kami berharap agar PT. LAR menghentikan aktivitasnya,” pinta Suryadi.
Sebagaimana diketahui bahwa memang tidak sedikit persoalan yang saat ini sedang dialami warga Kalbar umumnya dan Masyarakat Adat khususnya, terkait dengan terjadinya kriminalisasi yang dialami sebagai dampak konflik sumber daya alam. Kasus-kasus dimaksud seperti; kasus di Semunying Jaya, Silat Hulu Ketapang, Kasus di Sambas, Sanggau, Kapuas Hulu dan sejumlah daerah lainnya.
Mengingat peroalan perkebunan kelapa sawit yang memiliki multi dampak bagi lingkungan dan masyarakat adat, Hendrikus Adam menyampaikan pentingnya mendorong Masyarakat Adat untuk dapat berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya. ”Apa yang disampaikan dalam dialog ini hendaknya tidak hanya sampai diatas meja seperti ini, tetapi para narasumber sesuai dengan perannya hendaknya dapat melakukan perjuangan nyata untuk membantu warga yang saat ini terancam karena kebijakan pembukaan hutan skala besar. Apa yang dinyatakan oleh kedua narasumber lainnya tadi merupakan persoalan nyata masyarakat yang selama ini kami (Walhi Kalbar) perjuangkan,” harap Hendrikus Adam.
Kenangan kami bersama mereka, mungkin membuat sebagian orang merasa tidak perlu. Tetapi ketika anda bersama mereka keinginan anda akan dunia terlupakan sejenak.Baca dan sadarkan kehidupan anda, kita memang manusia dan rasanya pantas harus dihormati. tatapi ketika mereka dibantai rasa brontak akan keluar.(Paulo paire)
Minggu, 01 Mei 2011
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
Ibarat pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi”, demikian fenomena yang saat ini terjadi pada kondisi pohon durian (durio zibethinus) di perkampungan orang pedalaman yang mayoritas masyarakat Dayak. Makin berkurangnya kayu di hutan karena dibabat melalui aktivitas penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan skala besar untuk perkebunan dan lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI), untuk lokasi pertambangan dan pembukaan hutan dengan motif mencari keuntungan ‘sebanyak-mungkin’, sepertinya telah memberikan ruang bagi proses pembabatan kayu khas lokal di sekitar hutan rakyat.
Penebangan pohon durian untuk memenuhi kebutuhan kayu bagi konsumen dari luar dengan harga jual yang menggiurkan kini sedang marak terjadi. Tanaman khas yang syarat nilai sosial dan kultural bagi masyarakat pedalaman (Dayak) ini diambang kepunahan. Bila penebangan terus berlanjut, tidak mustahil buah dari tanaman durian yang baru bisa dipanen dengan usia mencapai puluhan tahun tinggal kenangan bagi generasi mendatang. Anak-anak hanya akan bisa gigit jari dan hanya akan dapat “memanen” durian dengan cara membeli. Sementara para orang tua terdahulu yang selama ini dikenal sebagai pewaris bagi generasinya, bisa jadi tidak akan pernah dianggap lagi karena generasi saat ini telah menggadaikan pohon durian untuk dijual, memenuhi kebutuhan jangka pendek. Penebangan pohon durian marak terjadi di beberapa tempat, terutama di Kabupaten Landak. Siapa yang masih peduli?
Fenomena penebangan pohon durian saat ini marak terjadi dibeberapa tempat menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.33/Menhut-II/2007 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.51/Menhut-II/2006 tentang Penggunaan Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) untuk pengangkutan hasil hutan kayu yang berasal dari hutan hak. Permenhut ini dikeluarkan tertanggal 24 Agustus 2007.
Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) berdasarkan Pasal 4 ayat 1 digunakan untuk pengangkutan kayu bulat rakyat dan kayu olahan rakyat yang diangkut langsung dari hutan hak atau lahan masyarakat. Dalam hal pemberian izin, pasal 5 menyebutkan: (1) SKAU diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat setara/pejabat lain di desa tersebut dimana hasil hutan kayu tersebut akan diangkut. (2) Pejabat penerbit SKAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupati/Walikota berdasarkan usulan Kepala Dinas Kabupaten/Kota. (3) Dalam hal Kepala Desa/Lurah atau pejabat setara/pejabat lain di desa tersebut berhalangan, Kepala Dinas Kabupaten/Kota menetapkan Pejabat penerbit SKAU.
Sedikitnya sebanyak 21 jenis kayu rakyat yang pengangkutannya menggunakan SKAU seperti berikut ini.
Ibarat pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi”, demikian fenomena yang saat ini terjadi pada kondisi pohon durian (durio zibethinus) di perkampungan orang pedalaman yang mayoritas masyarakat Dayak. Makin berkurangnya kayu di hutan karena dibabat melalui aktivitas penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan skala besar untuk perkebunan dan lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI), untuk lokasi pertambangan dan pembukaan hutan dengan motif mencari keuntungan ‘sebanyak-mungkin’, sepertinya telah memberikan ruang bagi proses pembabatan kayu khas lokal di sekitar hutan rakyat.
Penebangan pohon durian untuk memenuhi kebutuhan kayu bagi konsumen dari luar dengan harga jual yang menggiurkan kini sedang marak terjadi. Tanaman khas yang syarat nilai sosial dan kultural bagi masyarakat pedalaman (Dayak) ini diambang kepunahan. Bila penebangan terus berlanjut, tidak mustahil buah dari tanaman durian yang baru bisa dipanen dengan usia mencapai puluhan tahun tinggal kenangan bagi generasi mendatang. Anak-anak hanya akan bisa gigit jari dan hanya akan dapat “memanen” durian dengan cara membeli. Sementara para orang tua terdahulu yang selama ini dikenal sebagai pewaris bagi generasinya, bisa jadi tidak akan pernah dianggap lagi karena generasi saat ini telah menggadaikan pohon durian untuk dijual, memenuhi kebutuhan jangka pendek. Penebangan pohon durian marak terjadi di beberapa tempat, terutama di Kabupaten Landak. Siapa yang masih peduli?
Fenomena penebangan pohon durian saat ini marak terjadi dibeberapa tempat menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.33/Menhut-II/2007 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.51/Menhut-II/2006 tentang Penggunaan Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) untuk pengangkutan hasil hutan kayu yang berasal dari hutan hak. Permenhut ini dikeluarkan tertanggal 24 Agustus 2007.
Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) berdasarkan Pasal 4 ayat 1 digunakan untuk pengangkutan kayu bulat rakyat dan kayu olahan rakyat yang diangkut langsung dari hutan hak atau lahan masyarakat. Dalam hal pemberian izin, pasal 5 menyebutkan: (1) SKAU diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat setara/pejabat lain di desa tersebut dimana hasil hutan kayu tersebut akan diangkut. (2) Pejabat penerbit SKAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupati/Walikota berdasarkan usulan Kepala Dinas Kabupaten/Kota. (3) Dalam hal Kepala Desa/Lurah atau pejabat setara/pejabat lain di desa tersebut berhalangan, Kepala Dinas Kabupaten/Kota menetapkan Pejabat penerbit SKAU.
Sedikitnya sebanyak 21 jenis kayu rakyat yang pengangkutannya menggunakan SKAU seperti berikut ini.
| No. | Nama Perdagangan | Jenis Botani |
| 1. | Akasia | Acasia sp |
| 2. | Asam Kandis | Celebium dulce |
| 3. | Bayur | Pterospermum javanicum |
| 4. | Durian | Durio zibethinus |
| 5. | Ingul/Suren | Toona sureni |
| 6. | Jabon/Samama | Anthocephalus sp |
| 7. | Jati | Tectona grandis |
| 8. | Jati Putih | Gmelina arborea |
| 9. | Karet | Hevea braziliensis |
| 10. | Ketapang | Terminalia catappa |
| 11. | Kulit Manis | Cinamomum sp |
| 12. | Mahoni | Swietenia sp |
| 13. | Makadamia | Makadamia ternifolia |
| 14. | Medang | Litsea sp |
| 15. | Mindi | Azadirachta indika |
| 16. | Kemiri | Aleurites mollucana sp |
| 17. | Petai | Parkia javanica |
| 18. | Puspa | Schima sp |
| 19. | Sengon | Paraserianthes falcataria |
| 20. | Sungkai | Peronema canescens |
| 21. | Terap/Tarok | Arthocarpus elasticus |
Sedangkan jenis-jenis kayu seperti Cempedak, Dadap, Duku, Jambu, Jengkol, Kelapa, Kecapi, Kenari, Mangga, Manggis, Melinjo, Nangka, Rambutan, Randu, Sawit, Sawo, Sukun, Trembesi dan Waru tidak menggunakan dokumen SKAU maupun Surat keterangan Sah Kayu Bulat (SKSKB) cap “KR” (kayu rakyat), namun cukup menggunakan nota yang diterbitkan penjual (Pasal 10a poin 1) dengan menggunakan materai.
Dalam pasal 11 ayat 2 selanjutnya menyebutkan bahwa pengangkutan kayu rakyat di luar jenis-jenis yang menggunakan SKAU sebagaimana dimaksud pada Lampiran Permenhut dan Nota sebagaimana dimaksud Pasal 10a Peraturan ini, menggunakan SKSKB cap “KR”. Mengenai kayu olahan produk industri primer hasil hutan kayu yang bahan bakunya berasal dari hutan hak dan atau lahan rakyat, pengangkutan dari industri tersebut menggunakan Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO) atas nama industri yang bersangkutan (Pasal 10). Berdasarkan uraian diatas, data terkait tanaman jenis tengkawang belum dicantumkan dalam ketentuan ini. Padahal untuk, wilayah Kalimantan khususnya jenis tanaman ini termasuk tanaman khas warga.
Menggiurkan
Harga yang menggiurkan ternyata mampu meluluhkan hati empunya pohon durian mengikhlaskan pohon durian untuk di tebang. Berbagai ukuran dari kayu olahan pohon durian dengan harga yang pantastis. Menurut Wawar (19), warga Betung Pulai yang bekerja sebagai penggergaji pohon durian mengaku harga jual setiap kayu olahan sangat berpariasi, tergantung ukurannya. Sebagai penggergaji kayu, dalam setiap batang kayu persegi Wawar hanya mendapat upah sebesar Rp. 8.000 hingga Rp. 15.000. Dengan besaran upah tersebut, ia mengaku bisa mendapat penghasilan berkisar Rp. 100.000 hingga Rp. 500.000 dalam setiap harinya. “Harga jual untuk kayu sepanjang empat meter dengan masing-masing ukuran; 10 cm x15 cm = Rp 85.000, 10 cm x12 cm = Rp 65.000, 10 cm x 10 cm = Rp 35.000, 8 cm x 8 cm = 30.000 dan 12 cm x 12 cm = 55.000,” jelasnya.
Bukan hanya membeli dalam jenis kayu jadi, pohon durian yang masih tegak menurut Wawar juga biasanya dibeli secara borongan dengan harga yang tinggi. “Pernah dua pohon durian dihargai sebesar Rp. 4.900.000. Bahkan dalam satu kompokng parenean (wilayah tembawang kerabat) yang hanya terdapat sekitar 21 batang saja, di beli dengan harga 25 juta rupiah. Punya kami kemarin hanya empat pohon saja yang sebenarnya sering berbuah lebat, dibeli seharga delapan juta rupiah. Sebenarnya sayang sih menjualnya, apa lagi mau berbuah, tetapi apa boleh buat,” kisah Wawar kepada KR.
Di Kecamatan Sengah Temila, beberapa kepala desa yang mendapatkan SK untuk penerbitan SKAU menurut Drs. Mardiro, Kades Senakin, Kecamatan Sengah Temila meliputi wilayah desa Saham, Sidas, Senakin dan Tonang. Tidak semua kades menurut Mardiro diberi wewenang untuk meneritkan SKAU. “Sebenarnya yang dianjurkan untuk ditebang, durian yang tidak produktif lagi, buahnya tidak baik dan pohonnya sudah tua. Cuma karena kondisi ekonomi sekarang, sehingga pohon yang produktif dan muda juga ditebang. Malah yang ditebangi tanaman parenean,” jelasnya pada KR.
Umumnya menurut Mardiro, para kades yang terpilih dalam SK untuk penerbitan SKAU adalah mereka yang sebelumnya telah mengikuti Pelatihan Pengukuran dan Pengenalan Jenis Kayu Rakyat yang disenggarakan pihak terkait di Pontianak. Ia adalah salah seorang peserta saat itu. Meskipun sebagai Kades Senakin, namun Mardiro mengaku diberi kewenangan untuk menerbitkan SKAU untuk wilayah Desa Gombang, Aur Sampuk dan Sebangki.
Mardiro mengaku telah menerbitkan sebanyak 80 SKAU. Dalam setiap sebuah SKAU dihargai sebesar 2 juta rupiah dengan rincian distribusi meliputi Rp. 1,8 juta untuk Hutbun dan sebesar Rp. 200.000 masuk kas desa. Dalam setiap satu kendaraan angkutan, mesti dilengkapi sebuah SKAU. Adapun kayu durian olahan yang diangkut biasanya menggunakan mobil bak kontainer dengan muatan berkisar hingga 19 kubik dalam setiap mobil angkutan di bawa ke Pontianak dan luar daerah (pulau Jawa).
Makarius Sidi, pemuda asal kampung Mamek, Kecamatan Menyuke mengaku turut prihatin dengan maraknya penebangan pohon durian akhir-akhir ini. “Jenis tanaman ini perlu dijaga, dan masyarakat hendaknya jangan mudah tergiur dengan harga yang ditawarkan. Pemda hendaknya mengambil kebijakan dan tidak membiarkan proses penebangan terus berlanjut,”jelas Mahasiswa MIPA Untan ini.
MEAN VALENTINE DAY
The love was made to be understand from mean valentine day
Love was made to be a man understand life
Learn from a women made I am mean will love
I am thank with my mother
Because his was learned about life
And to my father, all success of me is her adventure
The valentine day I am became understand will there are parents in my live
Until I’m became a man my parents was made happy
Not can I’m give to our, only “thanks”
Mother and father I love you
Minggu, 17 April 2011
Materi bahasa jurnalistik
BAHASA Jurnalistik
adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication, disebut pula Newspaper Language), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak dan online), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami.
Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik.
Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi.
Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam.
Rosihan Anwar :
Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik.
Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik.
Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.
Wojowasito : Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagaimana tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah.
Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya.
Walaupun demikian tuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan.
Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok.
Yus Badudu: bahasa suratkabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik.
Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.
Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.
Asep Syamsul M. Romli :
Bahasa Jurnalistik/Language of mass communication. Bahasa yang biasa digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa.
Sifatnya : (1) komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. (2) spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat
Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik.
Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi.
Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam.
Rosihan Anwar :
Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik.
Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik.
Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.
Wojowasito : Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagaimana tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah.
Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya.
Walaupun demikian tuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan.
Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok.
Yus Badudu: bahasa suratkabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik.
Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.
Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.
Asep Syamsul M. Romli :
Bahasa Jurnalistik/Language of mass communication. Bahasa yang biasa digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa.
Sifatnya : (1) komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. (2) spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat
Menulis Opini
1. Memahami Konteks
• Penulis adalah dosen, mahasiswa, pendidik, atau pribadi yang terlibat dalam sebuiah persoalan. Jika dibandingkan dengan pertandingan sepak bola, penulis mestinya terlibat membangun permainan, bukan penonton di pinggir lapangan. Dalam konteks menulis, mengkritiki sekaligus terlibat memperbaiki keadaan.
• Dalam dinamika reflektif, siapapun perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Seorang guru (misalnya) yang menulis perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat pendidikan. Dengan demikian penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyarakat.
• Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggungjawab, kerja keras, kasih, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.
• Konteks yang lain adalah lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerjasama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.
• Kebiasaan menulis mengandaikan ada tiga hal penting yakni pengetahuan, ketrampilan, dan keinginan. Covey (1994) menyebut pengetahuan sebagai apa yang harus dilakukan dan mengapa, keinginan sebagai motivasi atau dorongan untuk melakukan, sedangkan ketrampilan adalah bagaimana melakukannya.
2. Memulai Menulis
• Opini mengupas suatu masalah sebagai tanggapan terhadap persoalan yang aktual dengan tujuan untuk memberitahu, mempengaruhi, meyakinkan, atau menjernihkan persoalan yang kontroversial. Opini berawal dari masalah, tanggapan penulis dapat menyetujui, menolak, mengkritisi, memberikan alternatif, terhadap masalah tersebut.
• Menulis artikel opini untuk koran – majalah – atau media cetak (intern/ lingkup terbatas) mesti mengambil sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca. Karya demikian bukan berarti menulis secara njlimet. Bentuk tulisan yang disajikan sebagai sarana komunikasi, menerjemahkan masalah yang rumit ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum.
• Empat hal penting sebagai panduan awal untuk memulai menulis adalah
- kepada siapa tulisan akan disajikan - media apa (koran, majalah) dan yang mana (nama media, lokal/ nasional) - gaya penulisan apa yang paling tepat - seberapa lama tulisan itu dibaca oleh pembaca
• Memublikasikan tulisan di media massa berarti mendedikasikan ide untuk pembaca awam, membagikan ilmu kepada mereka yang bukan ahli tetapi membutuhkan ilmu tersebut. Untuk itu, yang perlu diperhitungkan oleh penulis adalah mengaitkan isi tulisannya dengan kondisi atau peristiwa aktual di masyarakat, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, memperkenalkan ilmu atau temuan baru. Penyampaian ide dapat memanfaatkan struktur umum sebuah tulisan opini yakni masalah – evaluasi – solusi.
• Pembukaan yang menarik mesti diikuti pemaparan dalam tubuh tulisan secara fokus, sesuai tema yang disitir dalam pembuka. Berbagai alur pemaparan dapat dipilih, entah kronologis, proses, deduksi, maupun induksi. Penting untuk diingat, tulisan yang berhasil biasanya fokus, hanya mengatakan satu hal, dan tidak bertele-tele, ”Less is more”, kata Hemingway, pendek mudah diingat.
• Karena didedikasikan kepada pembaca yang umumnya awam, penulis perlu mengurangi istilah-istilah asing, bahkan kalau perlu istilah asing ditinggalkan, Kalau memungkinkan diterjemahkan, bisa juga dicarikan definisi atau sinonimnya. Istilah asing hanya digunakan sejauh hal itu mudah digunakan dan dipahami pembaca. Jauhkan dari pemikiran bahwa menggunakan istilah asing sama dengan elit.
• Surat penolakan redaktur dapat menjadi sarana untuk mengenali syarat-syarat opini yang baik : ” ... kami menilai artikel tersebut tidak dapat dimuat di harian KOMPAS. Pertimbangan kami, diskusi kurang berimbang, pembahasan hanya dari satu segi sedangkan segi lainnya kurang ditampilkan. Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui KOMPAS, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara menarik …”
1. Memahami Konteks
• Penulis adalah dosen, mahasiswa, pendidik, atau pribadi yang terlibat dalam sebuiah persoalan. Jika dibandingkan dengan pertandingan sepak bola, penulis mestinya terlibat membangun permainan, bukan penonton di pinggir lapangan. Dalam konteks menulis, mengkritiki sekaligus terlibat memperbaiki keadaan.
• Dalam dinamika reflektif, siapapun perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Seorang guru (misalnya) yang menulis perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat pendidikan. Dengan demikian penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyarakat.
• Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggungjawab, kerja keras, kasih, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.
• Konteks yang lain adalah lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerjasama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.
• Kebiasaan menulis mengandaikan ada tiga hal penting yakni pengetahuan, ketrampilan, dan keinginan. Covey (1994) menyebut pengetahuan sebagai apa yang harus dilakukan dan mengapa, keinginan sebagai motivasi atau dorongan untuk melakukan, sedangkan ketrampilan adalah bagaimana melakukannya.
2. Memulai Menulis
• Opini mengupas suatu masalah sebagai tanggapan terhadap persoalan yang aktual dengan tujuan untuk memberitahu, mempengaruhi, meyakinkan, atau menjernihkan persoalan yang kontroversial. Opini berawal dari masalah, tanggapan penulis dapat menyetujui, menolak, mengkritisi, memberikan alternatif, terhadap masalah tersebut.
• Menulis artikel opini untuk koran – majalah – atau media cetak (intern/ lingkup terbatas) mesti mengambil sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca. Karya demikian bukan berarti menulis secara njlimet. Bentuk tulisan yang disajikan sebagai sarana komunikasi, menerjemahkan masalah yang rumit ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum.
• Empat hal penting sebagai panduan awal untuk memulai menulis adalah
- kepada siapa tulisan akan disajikan - media apa (koran, majalah) dan yang mana (nama media, lokal/ nasional) - gaya penulisan apa yang paling tepat - seberapa lama tulisan itu dibaca oleh pembaca
• Memublikasikan tulisan di media massa berarti mendedikasikan ide untuk pembaca awam, membagikan ilmu kepada mereka yang bukan ahli tetapi membutuhkan ilmu tersebut. Untuk itu, yang perlu diperhitungkan oleh penulis adalah mengaitkan isi tulisannya dengan kondisi atau peristiwa aktual di masyarakat, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, memperkenalkan ilmu atau temuan baru. Penyampaian ide dapat memanfaatkan struktur umum sebuah tulisan opini yakni masalah – evaluasi – solusi.
• Pembukaan yang menarik mesti diikuti pemaparan dalam tubuh tulisan secara fokus, sesuai tema yang disitir dalam pembuka. Berbagai alur pemaparan dapat dipilih, entah kronologis, proses, deduksi, maupun induksi. Penting untuk diingat, tulisan yang berhasil biasanya fokus, hanya mengatakan satu hal, dan tidak bertele-tele, ”Less is more”, kata Hemingway, pendek mudah diingat.
• Karena didedikasikan kepada pembaca yang umumnya awam, penulis perlu mengurangi istilah-istilah asing, bahkan kalau perlu istilah asing ditinggalkan, Kalau memungkinkan diterjemahkan, bisa juga dicarikan definisi atau sinonimnya. Istilah asing hanya digunakan sejauh hal itu mudah digunakan dan dipahami pembaca. Jauhkan dari pemikiran bahwa menggunakan istilah asing sama dengan elit.
• Surat penolakan redaktur dapat menjadi sarana untuk mengenali syarat-syarat opini yang baik : ” ... kami menilai artikel tersebut tidak dapat dimuat di harian KOMPAS. Pertimbangan kami, diskusi kurang berimbang, pembahasan hanya dari satu segi sedangkan segi lainnya kurang ditampilkan. Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui KOMPAS, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara menarik …”
Jurnalistik
1. Kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.
2. Media massa, khususnya media cetak, adalah alat komunikasi yang bersifat satu arah. Walaupun sebenarnya media cetak bisa melakukan komunikasi dua arah, tenggat waktu dialog tidak spontan-seketika, maka lebih banyak bersifat satu arah. (h.7. Dewabrata, AM, 2004)
3. Harold Laswell, mengemukakan model sederhana komunikasi:
Siapa (who)
Pesannya apa (says what)
Saluran yang digunakan (in what channel)
Kepada siapa (to whom)
Apa dampaknya (with what effect)
Sembilan Prinsip Jurnalisme
1. Kewajiban pertama kepada kebenaran
2. Loyalitas pertama kepada warga masy.
3. Inti jurnalisme: disiplin verifikasi
4. Jurnalis: memiliki kebebasan dari narasumber
5. Jurnalis: pemantau bebas thdp kekuasaan
6. Jurnalisme: menyediakan ruang kritik & komentar publik
7. Jurnalisme: membuat yang penting jadi menarik
8. Jurnalis: berita proporsional dan komprehensif
9. Mempunyai kewajiban pada suara hati
Penyajian jurnalistik
1. rubrik = ruang = kapling=lahan
2. 3 kelompok besar
a. berita (news)
b. opini (views)
c. iklan (advertising)
3. Alasan pemilahan berdasar etika jurnalistik: tidak mencampur berita sebagai fakta obyektif dengan opini yang subyektif
Rubrik
1 .“Rubrik ibarat menu-menu dalam sebuah pesta prasmanan. Dan hidangan dalam pesta itu adalah majalah.”
2. Rubrik berasal dari kata Latin, ruber yang berarti: merah.
3. Penyekat-penyekat dengan kain/pita merah untuk menandai buku satu dengan buku lain. Batas, atau halaman pemisah buku dengan pita merah itu, kemudian berkembang menjadi rubrik.
Rubrikasi produk jurnalistik
1. Berita
2. Tajuk rencana
3. Karikatural
4. Pojok
5. Artikel : tulisan opini > praktis, ringan, analisis
6. Kolom
7. Surat pembaca
1. Kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.
2. Media massa, khususnya media cetak, adalah alat komunikasi yang bersifat satu arah. Walaupun sebenarnya media cetak bisa melakukan komunikasi dua arah, tenggat waktu dialog tidak spontan-seketika, maka lebih banyak bersifat satu arah. (h.7. Dewabrata, AM, 2004)
3. Harold Laswell, mengemukakan model sederhana komunikasi:
Siapa (who)
Pesannya apa (says what)
Saluran yang digunakan (in what channel)
Kepada siapa (to whom)
Apa dampaknya (with what effect)
Sembilan Prinsip Jurnalisme
1. Kewajiban pertama kepada kebenaran
2. Loyalitas pertama kepada warga masy.
3. Inti jurnalisme: disiplin verifikasi
4. Jurnalis: memiliki kebebasan dari narasumber
5. Jurnalis: pemantau bebas thdp kekuasaan
6. Jurnalisme: menyediakan ruang kritik & komentar publik
7. Jurnalisme: membuat yang penting jadi menarik
8. Jurnalis: berita proporsional dan komprehensif
9. Mempunyai kewajiban pada suara hati
Penyajian jurnalistik
1. rubrik = ruang = kapling=lahan
2. 3 kelompok besar
a. berita (news)
b. opini (views)
c. iklan (advertising)
3. Alasan pemilahan berdasar etika jurnalistik: tidak mencampur berita sebagai fakta obyektif dengan opini yang subyektif
Rubrik
1 .“Rubrik ibarat menu-menu dalam sebuah pesta prasmanan. Dan hidangan dalam pesta itu adalah majalah.”
2. Rubrik berasal dari kata Latin, ruber yang berarti: merah.
3. Penyekat-penyekat dengan kain/pita merah untuk menandai buku satu dengan buku lain. Batas, atau halaman pemisah buku dengan pita merah itu, kemudian berkembang menjadi rubrik.
Rubrikasi produk jurnalistik
1. Berita
2. Tajuk rencana
3. Karikatural
4. Pojok
5. Artikel : tulisan opini > praktis, ringan, analisis
6. Kolom
7. Surat pembaca
Berita dan Nilai Berita (Ishwara, 2005)
Fakta obyektif: berdimensi tunggal – wartawan sekedar pelapor – tidak mencoba bergerak lebih jauh, melampaui situasi –
Media :tidak sekedar membawa berita –menjelaskan berita
Adil: lengkap, relevan, jujur, terus terang
Bentuk Berita
• Berita lugas dan berita halus
• Feature: bright-kecil-anekdot, sidebar, sketsa pribadi-profil, profil organisasi-proyek, newsfeature, pengalaman pribadi, wawancara
Jenis berita
• Berita yang terpusat pada peristiwa yang khas menyajikan peristiwa hangat yang baru terjadi, tidak diinterpretasikan, tidak dihubungkan dengan situasi dan peristiwa yang lain.
• Berita dengan proses interpretasikan (laporan khusus, feature ...)
Jenis teras berita
• Teras berita menempati alinea pertama, mencerminkan pokok berita. Sedapat mungkin satu kalimat saja.
• Teras penyimpulan:
“Kepala Negara mengisi hari liburnya dengan kegiatan santai di Kebun Raya dan Taman Safari Bogor, Minggu (14/9).
• Teras pernyataan :
“Kapolri menegaskan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus BLBI hingga semua terungkap.
• Teras kontras :
“ Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga merasakan kesulitan mendapatkan air bersih.”
• Teras menjerit :
“Tidak ...!” Demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman penjara seumur hidup.
• Teras kutipan :
“Penyebar isu menyesatkan harus diusut dan dihukum,” demikian dikatakan Kepala Negara, kemarin, menanggapi munculnya isu-isu yang meresahkan masyarakat belakangan ini”
Teras menurut penonjolan salah satu unsur berita
• Teras Apa (what): “Gedung Islamic Centre Bandung (what) diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Barat kemarin”.
• Teras Siapa (who): “Gubernur Jawa Barat (who) meresmikan penggunaan Gedung Islamic Centre Bandung kemarin”.
• Teras Dimana (where): “Di Gedung Islamic Centre Bandung (where) tengah berlangsung pameran busana Muslimah dan bazar buku-buku Islam.”
• Teras Kapan (when): “Mulai besok (when) para nasabah 16 bank yang terlikuidasi dapat mencairkan uang simpanannya di bank-bank yang ditelah ditunjuk.”
• Teras Mengapa (why): “Untuk memulihkan kondisi fisik yang kelelahan (why), Kepala Negara akan beristirahat selama 10 hari atas ajuran tim dokter.”
• Teras Bagaimana (how):” Melalui pendidikan dan pelatihan wartawan (how), PWI terus berupaya meningkatkan profesionalisme anggotanya.”
Fakta obyektif: berdimensi tunggal – wartawan sekedar pelapor – tidak mencoba bergerak lebih jauh, melampaui situasi –
Media :tidak sekedar membawa berita –menjelaskan berita
Adil: lengkap, relevan, jujur, terus terang
Bentuk Berita
• Berita lugas dan berita halus
• Feature: bright-kecil-anekdot, sidebar, sketsa pribadi-profil, profil organisasi-proyek, newsfeature, pengalaman pribadi, wawancara
Jenis berita
• Berita yang terpusat pada peristiwa yang khas menyajikan peristiwa hangat yang baru terjadi, tidak diinterpretasikan, tidak dihubungkan dengan situasi dan peristiwa yang lain.
• Berita dengan proses interpretasikan (laporan khusus, feature ...)
Jenis teras berita
• Teras berita menempati alinea pertama, mencerminkan pokok berita. Sedapat mungkin satu kalimat saja.
• Teras penyimpulan:
“Kepala Negara mengisi hari liburnya dengan kegiatan santai di Kebun Raya dan Taman Safari Bogor, Minggu (14/9).
• Teras pernyataan :
“Kapolri menegaskan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus BLBI hingga semua terungkap.
• Teras kontras :
“ Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga merasakan kesulitan mendapatkan air bersih.”
• Teras menjerit :
“Tidak ...!” Demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman penjara seumur hidup.
• Teras kutipan :
“Penyebar isu menyesatkan harus diusut dan dihukum,” demikian dikatakan Kepala Negara, kemarin, menanggapi munculnya isu-isu yang meresahkan masyarakat belakangan ini”
Teras menurut penonjolan salah satu unsur berita
• Teras Apa (what): “Gedung Islamic Centre Bandung (what) diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Barat kemarin”.
• Teras Siapa (who): “Gubernur Jawa Barat (who) meresmikan penggunaan Gedung Islamic Centre Bandung kemarin”.
• Teras Dimana (where): “Di Gedung Islamic Centre Bandung (where) tengah berlangsung pameran busana Muslimah dan bazar buku-buku Islam.”
• Teras Kapan (when): “Mulai besok (when) para nasabah 16 bank yang terlikuidasi dapat mencairkan uang simpanannya di bank-bank yang ditelah ditunjuk.”
• Teras Mengapa (why): “Untuk memulihkan kondisi fisik yang kelelahan (why), Kepala Negara akan beristirahat selama 10 hari atas ajuran tim dokter.”
• Teras Bagaimana (how):” Melalui pendidikan dan pelatihan wartawan (how), PWI terus berupaya meningkatkan profesionalisme anggotanya.”
Berita adalah
• laporan tentang suatu kejadian yang dapat menarik perhatian pembaca.
• laporan tercepat dari suatu peristiwa atau kejadian faktual, penting,
dan menarik bagi sebagian besar pembaca,
serta menyangkut kepentingan mereka.
(Romli, 2005)
Berita disampaikan dengan ragam bahasa jurnalistik, yakni populer,
menggunakan rangkaian kata-kata yang mudah dicerna dalam waktu
singkat. Unsur-unsur berita yakni siapa, apa, mengapa, di mana, kapan,
bagaimana, dan juga berbagai keterangan lainnya mesti disusun dengan runut.
Ada kecenderungan umum bahwa orang tak senang membaca berita yang susah
Dimengerti. Padahal, berita ditulis untuk dibaca. Kalau mereka yang diharapkan
supaya membaca saja sudah tak mau membaca, lalu untuk apa berita ditulis?
(Dewabrata, 2004)
• laporan tentang suatu kejadian yang dapat menarik perhatian pembaca.
• laporan tercepat dari suatu peristiwa atau kejadian faktual, penting,
dan menarik bagi sebagian besar pembaca,
serta menyangkut kepentingan mereka.
(Romli, 2005)
Berita disampaikan dengan ragam bahasa jurnalistik, yakni populer,
menggunakan rangkaian kata-kata yang mudah dicerna dalam waktu
singkat. Unsur-unsur berita yakni siapa, apa, mengapa, di mana, kapan,
bagaimana, dan juga berbagai keterangan lainnya mesti disusun dengan runut.
Ada kecenderungan umum bahwa orang tak senang membaca berita yang susah
Dimengerti. Padahal, berita ditulis untuk dibaca. Kalau mereka yang diharapkan
supaya membaca saja sudah tak mau membaca, lalu untuk apa berita ditulis?
(Dewabrata, 2004)
Sebuah berita disusun dan dilaporkan berdasarkan obervasi yang cermat. Ishwara (2005)
menyarankan langkah-langkah dasar:
1. Siapa (who): Dapatkan nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan selalu mencek ejaannya untuk ketelitian.
2. Apa (what): Dapatkan cerita tentang hal yang terjadi. Dalam beberapa berita, seperti berita polisi, anda mungkin ingin tahu urutan kejadiannya. Anda tidak perlu menulis beritanya secara kronologis, tetapi anda perlu mengerti jalan ceritanya.
3. Kapan (when): Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.
4. Di mana(where): Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah.
5. Mengapa (why): Mengerti apa yang menjadi penyebab peristiwa itu. Apa yang menyebabkan konflik dan, bila ada, bagaimana pemecahannya?
6. Bagaimana (how): Cari lebih banyak informasi tentang peristiwa itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
7. Lalu apa (so what): Apa dampak terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini? Apa pula dampaknya bagi pembaca?
Unsur-unsur yang mempengaruhi suatu fakta atau gagasan sehingga dapat dijadikan berita adalah :
1. Penting (significance), yaitu kejadian yang dapat mempengaruhi orang banyak atau kejadian yang punya dampak terhadap kehidupan para pembaca.
2. Besar (magnitude), yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka berarti bagi kehidupan orang banyak atau kejadian yang dapat berakibat dijumlahkan dalam rangka menarik buat pembaca.
3. Waktu (timeless), yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal yang baru terjadi atau baru ditemukan.
4. Dekat (proximity), yaitu kejadian yang dekat bagi pembaca. Kedekatan ini bisa bersipat geografis ataupun emosional.
5. Tenar/populer, luar biasa (prominence), menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat terkenal oleh pambaca.
6. Manusiawi (human interest), yaitu kejadian yang memberikan sentuhan perasaan bagi para pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa atau orang besar dalam situasi biasa.
menyarankan langkah-langkah dasar:
1. Siapa (who): Dapatkan nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan selalu mencek ejaannya untuk ketelitian.
2. Apa (what): Dapatkan cerita tentang hal yang terjadi. Dalam beberapa berita, seperti berita polisi, anda mungkin ingin tahu urutan kejadiannya. Anda tidak perlu menulis beritanya secara kronologis, tetapi anda perlu mengerti jalan ceritanya.
3. Kapan (when): Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.
4. Di mana(where): Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah.
5. Mengapa (why): Mengerti apa yang menjadi penyebab peristiwa itu. Apa yang menyebabkan konflik dan, bila ada, bagaimana pemecahannya?
6. Bagaimana (how): Cari lebih banyak informasi tentang peristiwa itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
7. Lalu apa (so what): Apa dampak terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini? Apa pula dampaknya bagi pembaca?
Unsur-unsur yang mempengaruhi suatu fakta atau gagasan sehingga dapat dijadikan berita adalah :
1. Penting (significance), yaitu kejadian yang dapat mempengaruhi orang banyak atau kejadian yang punya dampak terhadap kehidupan para pembaca.
2. Besar (magnitude), yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka berarti bagi kehidupan orang banyak atau kejadian yang dapat berakibat dijumlahkan dalam rangka menarik buat pembaca.
3. Waktu (timeless), yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal yang baru terjadi atau baru ditemukan.
4. Dekat (proximity), yaitu kejadian yang dekat bagi pembaca. Kedekatan ini bisa bersipat geografis ataupun emosional.
5. Tenar/populer, luar biasa (prominence), menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat terkenal oleh pambaca.
6. Manusiawi (human interest), yaitu kejadian yang memberikan sentuhan perasaan bagi para pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa atau orang besar dalam situasi biasa.
Media massa adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.
Jenis-jenis media masa
Secara tradisional jenis-jenis media massa adalah: surat kabar , majalah , radio , televisi , film (layar lebar).
Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.
Pengaruh media massa pada budaya
Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari:
• skala kecil (individu) dan luas (masyarakat)
• kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi.
Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi masa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :
• Siapa (who)
• Pesannya apa (says what)
• Saluran yang digunakan (in what channel)
• Kepada siapa (to whom)
• Apa dampaknya (with what effect)
• Model ini adalah garis besar dari elemen-elemen dasar komunikasi.
Dari model tersebut, Laswell mengidentifikasi tiga dari keempat fungsi media.
Fungsi-fungsi media massa pada budaya
• Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan.
• Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah.
• Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan.
Fungsi hiburan (entertainment) yang diperkenalkan oleh Charles Wright yang mengembangkan model Laswell dengan memperkenalkan model dua belas kategori dan daftar fungsi. Pada model ini Charles Wright menambahkan fungsi hiburan. Wright juga membedakan antara fungsi positif (fungsi) dan fungsi negatif (disfungsi).
Pengaruh media massa pada pribadi
Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap pribadinya dan seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.
Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya mengenai standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu - dan gambaran ini banyak dipengaruhi oleh yang pemirsa lihat pada media.
Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan perilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut.
Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip "gaya rambut lupus", atau menggunakan kacamata a'la "catatan si boy".
Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi "penentu", mereka menentukan arah media populer saat mereka berekspresi dan mengemukakan pendapatnya.
Penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mendukung pemirsanya menjadi lebih baik atau mengempiskan kepercayaan dirinya. Media bisa membuat pemirsanya merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain . *
Jenis-jenis media masa
Secara tradisional jenis-jenis media massa adalah: surat kabar , majalah , radio , televisi , film (layar lebar).
Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.
Pengaruh media massa pada budaya
Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari:
• skala kecil (individu) dan luas (masyarakat)
• kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi.
Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi masa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :
• Siapa (who)
• Pesannya apa (says what)
• Saluran yang digunakan (in what channel)
• Kepada siapa (to whom)
• Apa dampaknya (with what effect)
• Model ini adalah garis besar dari elemen-elemen dasar komunikasi.
Dari model tersebut, Laswell mengidentifikasi tiga dari keempat fungsi media.
Fungsi-fungsi media massa pada budaya
• Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan.
• Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah.
• Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan.
Fungsi hiburan (entertainment) yang diperkenalkan oleh Charles Wright yang mengembangkan model Laswell dengan memperkenalkan model dua belas kategori dan daftar fungsi. Pada model ini Charles Wright menambahkan fungsi hiburan. Wright juga membedakan antara fungsi positif (fungsi) dan fungsi negatif (disfungsi).
Pengaruh media massa pada pribadi
Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap pribadinya dan seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.
Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya mengenai standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu - dan gambaran ini banyak dipengaruhi oleh yang pemirsa lihat pada media.
Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan perilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut.
Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip "gaya rambut lupus", atau menggunakan kacamata a'la "catatan si boy".
Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi "penentu", mereka menentukan arah media populer saat mereka berekspresi dan mengemukakan pendapatnya.
Penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mendukung pemirsanya menjadi lebih baik atau mengempiskan kepercayaan dirinya. Media bisa membuat pemirsanya merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain . *
| Reaksi: |
Kuliput penuh dilema
Kuliput satu tragedy berbuih
Dengan pulpen tinta berdarah
Dengan kertas tercabik amarah
Dengan nurani terbungkus iman
Kuliput satu tragedy berbuih
Dengan seribu mata mendakwa
Dengan setetes air mata anak yatim
Dengan kata dibalut dilema
Kuliput satu tragedy berbuih
Dengan nurani terbeban lara
Dengan budi tersayat peluru
Dengan mata terkatup rupiah
Kuliput satu tragedy berbuih
Dengan pulpen bertinta darah
Dengan kamera dibalik acting
Dengan nyawa di ujung laras senapan
Karena itu adanya
Warung Makan Pertama kali di Mrican
Oleh: Richi Richardus P. Anyan
“Jualan sekarang sepi, banyak saingannya. Wong lewat mampir. Kalau mahasiswa udah jarang ke sini, mungkin karena jelek tempatnya,” papar wanita ini sambil melempar pandangannya keluar ruangan
***
Mbah Buadesima, wanita tua berumur 70 tahun. Kulit mukanya sudah berkerut. Namun semangatnya untuk menyambung hidup terus membara. Bermodalkan warung makan peninggalan suaminya, ia terus menyambung hidup di antara persaingan warung makan lain yang berdiri megah di sampingnya. Dialah yang membuat warung makan pertama kali di Mrican.
Ibu tiga anak ini pertama kali datang ke jogja ketika masih kecil. Enta waktu itu ia berumur berapa, yang pasti mrican masih merupakan daerah persawahan dan perkebunan. Belum ada sekolah apapun di Mrican.
“Aku lupa mas kalau ditanya tahun berapa aku ke sini, hanya pertama kali aku ke sini, tempat ini masih daerah persawahan, belum ada sekolah.” Demikian kata Simbah dua cucu ini sambil menunjuk kea rah kampus satu Universitas Sanata Dharma.
Ketika hidup mulai terasa susah, suaminya membuatkan warung makan untuk dirinya. Dinding warung makan itu terbuat dari bambu yang ditambali dengan beberapa seng bekas. Atapnya terbuat dari seng. Tiang-tiangnya terbuat dari beberapa batang pohon kecil. Bagunan itu belum pernah direnovasi lagi.
“Iki peninggalan bojoku.” Demikian tutur wanita yang membuat warungnya persis di depan pekuburan.
Kemauannya untuk tidak merombak warung peninggalan suaminya ini berbuah pada penghasilannya. Jualannya yang dulu bisa mencapai dua Rp 200.000 per hari, kini hanya Rp 50.000 saja. Tidaklah mengherankan kalau penghasilannya menurun karena di samping warung makannya, ada satu warung makan yang berdiri megah. Jarak warung makan simbah dengan warung makan megah itu hanya lima meter saja.
“Jualan sekarang sepi, banyak saingannya. Wong lewat mampir. Kalau mahasiswa udah jarang ke sini, mungkin karena jelek tempatnya,” papar wanita ini sambil melempar pandangannya keluar ruangan.
Menurut istri Adi Tukiman ini, walaupun banyak pesaingnya, ia selalu dihargai oleh pemilik warung sekitar. Mereka sering datang sekedar bertegur sapa dengannya.
“Aku bahagia mas, wong aku buat warung ini biar bisa terhibur. Kalau mereka buat warung ya… untuk hidup,” tutur simbah yang selalu menggunakan kebaya ini sembari berdiri menuju tempat cucian piring.
Mbah Buadesima tidak pernah menaruh dendam pada para pesaingnya. Ia selalu mengambil hal positif dari apa yang dialaminya.
“Mereka semua baik mas. Wong mereka semua sudah aku anggap anak sendiri,” demikian petuah dari wanita yang sering hanya disapa simbah oleh banyak orang yang mengenalnya.
Tujuh Bidadari dan Termos Ajaib Ala PGSD”
(Pementasan Drama Komedi Mahasiswa PGSD 2010)
Oleh: Richi Richardus p. Anyan
Kisah dua insan manusia yaitu Adam dan Eva yang telah diusir dari Taman Firdaus oleh St. Michael ke Bumi akibat memakan buah terlarang. Namun beberapa tahun kemudian Adam dan Eva kembali lagi ke Taman Firdaus untuk menghadap St. Michael karena Eva tidak bisa menyusui anak yang telah dia lahirkan. Hal ini disebabkan Konstruksi tubuh Eva sama seperti Adam kecuali dalam hal jenis klamin. Keputusan St. Michael saat itu adalah mengisinkan Adam dan Eva untuk mengambil susu dari pohon susu yang ada di Taman Firdaus tiga kali sehari. Akan tetapi, keputusan ini disalahgunakan oleh dua insane manusia tersebut. Mereka seenanya mengotori Taman firdaus. Hal ini membuat St. Michael naik pitam.
Akhirnya St. Michael mengadakan rapat dadakan dengan Tujuh Bidadari untuk menyelesaikan masalah tersebut. Rapat itu menghasilkan sebuah ide cemerlang dari Bidadari kelima yaitu dengan memasangkan alat yanglebih dikenal dengan nama “Termos Ajaib” ke tubuh Adam dan Eva agar kedua insan ini tidak bolak balik Taman Firdaus dan mengotorinya lagi.
Berbekal PETA BUMI, ketujuh Bidadari itupun segera menuju ke Bumi untuk memasang “Termos Ajaib” ke tubuh Adam dan Eva. Sayangnya, pada saat mereka sampai ke Bumi, Adam sedang berada di ladang, hanya Eva yang berada di rumah. Karena waktu yang terbatas, mereka menyepakati bahwa “Termos Ajaib” itu dipasang di tubuh Eva untuk sementara waktu. Apabila sewaktu-waktu mereka kembali ke Bumi barulah mereka memindahkan kembali “Termos Ajaib” yang satunya ke tubuh Adam. Namun tujuh bidadari itu kehilangan peta untuk pulang. Akibatnya Termos Ajaib itu berada ditubuh Eva dan anak-anak keturunannya.
Keunikan alur drama karangan Alm. R. J. Marjuki inilah yang membuat Dimas Prasetyo Aji dan teman-temannya kelas 1D PGSD Universitas Sanata Dharma (USD) Angkatan 2010 memilih mementaskannya sebagai pengganti Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Seni Drama. Pementasannya dilaksanakan pada hari Sabtu, 4 Desember 2010 di Aula Kampus I Mrican USD.
“Awalnya ada tiga drama yang saya usulkan kepada teman-teman yaitu Tujuh Bidadari dan Termos Ajaib, Janji-janji, dan Popok Wewe. Namun semua teman memilih Tujuh Bidadari dan Termos Ajaib untuk disadur dan dipentaskan,” kata Aji selaku ketua panitia pementasan sambil mengingat kembali awal pengusulan ide drama sekitar tiga bulan yang lalu.
Persiapan pementasan ini sudah dilakukan sejak tiga bulan yang lalu, mulai dari pembentukan panitia samapai pada pementasan drama ini. Akan tetapi ada banyak sekali kendala dalam persiapan ini, baik dari latihan-latihan samapai pada urusan peminjaman properti untuk pementasannya.
“kadang latihan sering molor-molor, pemerannya nggak lengkap, sampai urusan peminjaman barang pun kami kurang paham karena baru pertama.” Demikian kisah Viviana Desiani selaku sutradara.
Pengalaman pertama inilah yang membuat mereka banyak sekali belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Kesalahan-kesalahan inilah yang membuat mereka sering melakukan evaluasi dan diskusi guna mencari solusi secara bersama.
Alhasil, pementasan ini ditonton oleh 141 orang baik dari dalam maupun luar kampus yaitu USD, UNY, UAJY, UAD dan UGM. Hal ini diluar dari target awal mereka yang memperkirakan penonton berjumlah seratus orang. Penonton pun beberapa kali dibuat tertawa karena percakapan maupun gerak-gerik pelakon yang lucu.
“Tujuan kami melaksanakan pementasan ini selain untuk menyelesaikan Ujian Akhir Semester, kami juga ingin menghibur masyarakat dengan apa yang kami bisa dan menuangkan kreativitas dan bakat kami pada suatu kegiatan yang positif,” tutur Aji.
Menurutnya, berkarya seni dan berkreasi yang berguna bagi banyak orang. “Kalau kayak gini mengasyikan,” ungkapnya sambil tersenyum.
Reportase bersama Wita BK 2010
Langganan:
Postingan (Atom)