Minggu, 17 April 2011

Aku dan keluargaku


Saya adalah anak 2 dari 4 bersaudara. Orang tua saya bernama Yohanes Bejo dan Ibu saya Kristina Nelly. Saya tumbuh dari keluarga yang sangat  sederhana. Bapak saya bekerja sebagai guru SMP dan ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ibu saya kadang juga harus menyabi pekerjaan sebagi petani karet untuk mencukupi kehiduapan keluarag. Semua pekerjaan dilakukan ibu saya dengan senang hati dan cinta, bahkan tidak pernah sekalipun aku dengar dari mulut mereka tentang menguluh dalam bekerja yang aku rasakan bagaimana mereka dengan semangat dalam menjalani pekerjaan dan tampa lelh agar kamo anak-anak nya merasa bahagia. Ayah saya yang pekerjaan nya sebagai guru setiap pagi pergi ke sekolah dengan mengendarai motor BMWnya (Bebek Merah Warna nya) itu yang sering aku dengar ketika para murid-murid SMP mrmberi pelesetan tantang bapak saya, yang menbuat aku heran bapak saya tidak pernah merasa tersingung dengan pelesetan itu semua ia malah tersenyum.Ibu saya pernah member sebuah pesan kepada kami,’ jalanilah semua pekerjaan dengan cinta dan ketulusan itu lebih berharga dari segalanya, dan pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik unyuk kalian,’’ kata kata itu yang telontar dari mulut ibu saya di waktu saya masih SMP. Tiadak jarang ketika kami libur ibu saya mengajak saya untuk pergi ke kebun atau kehuatan untuk mencari kayu bakar dan rebung. Saya merasa  bahagia ketika saya dan adik saya bersama-sama pergi ke kebun, karana itulah altarnatif kami untuk mengisi hari libur, yang tidak kebanyakan orang pergi bertemasya ke mall atau ke kota, bahkan belanja-belanja ke pasar. Bagi kami pasar kami adalah hutan, karena di hutanlah kami dapat mencari sayur dan pucuk-pucukan.
Dalam keluarga kami terdapat rasa kebersaman yang cukup tinggi. Kebersaman itu terlihat dari doa bersama ketika pagi dan makan bersama ketika makan malam, walaupun kadang makan itu cukup sederhana, tetapi bapak saya memulai makan dengan doa pembuka dan baru itu kami boleh makan. Ketika makanan itu menunya adalah daging atau ikan, dan lauknya itu sedikit ayah saya dan ibu saya membagi ikan itu kepada anak-anaknya dengan adil, mereka bahkan tidak mendapatkan ikan itu yang mereka peruntukan terutam untuk kami dahulu. Kadang-kadang mereka makan dengan sayur dan sambal terasi, itu lah yang pernah saya rasakan. Setelah makan biasanya orang tua kami mengajak kami bicara atau berbincang-bincang, atau sedikit bercerita tentang pengalam mereka, semuanya terjalin dengan akrab dan baik. Ketika semuanya selesai ayah kami biasanya ,menganjurkan kami untuk belajar, tetapi kalau kami tidak mau belajar ayah saya tidak memaksa kami, asal jangan mengangu orang lain yang igun belajar, karena di sini ayah saya mengajarkan bagaimana menghargai kebebasan dan orang lain dan tidak mengangu hak milik orang lain itu yang terpenting. Saya sebagai anak yang biasanya bandel dan malas belajar tetapi tetap menghormati dan tidak mengangu adik dan kakak saya yang sedang belajar, saya biasanya melakukan aktivitas sendiri, ya biasanya main ke tempat teman atau mencari kodok di kali sama teman.
Ketika hari menjelang malam ayah dan ibu tidak pernah lupa untuk mengigatkan kami utuk berdoa sebelum tidur. Menjelang pagi sekitar jam 5 ibu saya menyiapkan pakaian kotor atau cucian piring yang kotor untuk kami bersihkan ke sungai. Pekerjaan seperti ini kami lakukan setiap hari dan pekerjaan ini menjadi kebiasan kami yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang hidup kami. Ibu saya jam 6 dia sudah melakukan pekerjanya sendiri, biasanya di pergi ke kebun untuk menorah (bahasa Kalimantan yang artinya bekerja sebagai petani karet). Saya dan adik saya harus pergi kesekolah sendirin dengan jalan kaki-kira 2,5 Km. Setelah pulang dari sekolah saya tidak lansung makan tetapi harus membantu ibu memasak nasi atau meghidupkan api yang dari kayu bakar, setelah semuanya masak saya dan beserta kelurga baru bisa makan siang. Makan siang bisanya tidak harus berkumpul semua karena ayah yang biasanya datang lebiah lama dari saya. Kegiatan seperti ini menjadi sudah menjadi kebiasan dan rutinitas yang setiap hari kami lakukan bersama keluarga. Saya merasa sangat beruntung lahir dari keluarga yang sederhan dan tidak berkelimpahan harta, berkecukupanlah yang menjadikan saya menjadi orang yang rendah hati kepada sesama. Keluarga kami sangat menghormati budaya daerah, kebetulan ayah saya orang jawa dan ibu saya orang dayak asli, tetapi perkawinan yang berbeda suku itu membuat ibu dan ayah saya saling mencintai. Di kelurga kam, rasa cinta ibu dan ayah saya sangat terasa ketika mereka membagikan kehangatan cinta itu kepada kami lewat perhatian mereka dan kasih sayang mereka yang berlimpah kepada kami.
Pada intinya saya merasa bahagia hidup dengan keluarga yang sederhana ini, dan tidak sedikitpun di dalam benak aku untuk mencari kebahagian di luar keluarga. Ayah saya menjadi pedoman dalam hidup saya dan ibu saya yang menjadi pengigat ketika saya mengalami keraguaan untuk melangkah.

Tidak ada komentar: